PIXETHIC

Masukan dari November 2007

RANIA

29 November 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

rania.jpg

Rania Pavita Maheswari, nama putri kami yang lucu sekali. Umurnya baru 2 tahun 9 bulan. Minatnya terhadap seni suara begitu besar. Setiap kali ada lagu / musik di TV, ia duduk manis menontonnya, padahal ia sebenarnya anak yang tidak pernah bisa diam. Lagu favourite-nya adalah ”my heart” yang dinyanyikan Acha & Irwansyah. Saking suka-nya akan lagu itu, ia sering bernyanyi dengan memegang gagang sapu atau sisir, untuk bergaya menyanyikan lagu itu. Suaranya memang belum enak didengar, tetapi acting-nya itu, wuah…. pede banget. Sering juga ia bernyanyi saat ia jalan-jalan di mall, sering ia dilirik orang-orang di sekitarnya sambil mereka tersenyum.
Selain minatnya terhadap musik, ia juga sangat ”fanatik” terhadap gambar-gambar seperti princess, al. Cinderella, snow white, barbie dll. Saya dan istri, Novi, seringkali kerepotan saat pergi ke mall. Setiap kali ia melihat ”princess” ia pasti menunjuk barang itu dan memintanya, apapun barangnya.
Ia juga paling senang dipotret, pernah sewaktu saya memotret souvenir untuk wedding album, ia meminta untuk dipotret, padahal dulunya, ia sangat takut dengan background berwarna gelap…… lucunya saat ia bergaya…..
Kecerewetan Rania, seringkali membuat ibunya pusing, bahkan marah-marah. Banyak bicara, banyak bertanya, banyak maunya…… Ini menurut saya, ciri-ciri anak cerdas. Walaupun seringkali ia dimarahi ibunya, Rania hampir tiap hari mencium pipi kiri kanan ibunya, bahkan sering juga ia mencium pipi ayahnya, agar dikabulkan keinginannya.
Satu hal yang saya syukuri, betapa eloknya anak kami, tidak pernah saya bosan melihatnya, bahkan setiap pulang kantor, atau setiap lelah bekerja, saya sangat terhibur melihat wajahnya………. mungkin ini adalah jawaban dari do’a yang senantiasa dibaca sehabis sholat. Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurota ’ayun, waj’alna lil muttaqima imama…. Alhamdulillah……

Kategori: Umum

Sejarah Canon (2)

29 November 2007 · 1 Komentar

The best submarine is the Igo.
The best airplane is the Model 92.
The best camera is the Kwanon.
They are all the best in the world.

Itulah impian Goro Yoshida dan kedua iparnya tahun 1934 dalam iklannya, untuk menjadikan kamera kwanon menjadi kamera terbaik di dunia. Pada era itu nama besar Leica, sudah dikenal orang. Jadi bisa kita bayangkan seberapa jauh reputasi Leica dibandingkan dengan Canon, tentu saja sangat jauh. Leica-lah yang memimpin. Sedangkan Nikon saat itu masih merupakan perusahaan produsen lensa, baru tahun 1945 Nikon memproduksi kamera. Berkat dedikasi yang tinggi, dan usaha yang persisten, meskipun Kwanon berganti nama menjadi Canon, terbukti impian mereka menjadi kenyataan pada saat ini.

Setelah meluncurkan Hansa Canon di tahun 1936, tahun tahun berikutnya Canon berhenti memproduksi, kemudian setelah perang Dunia II berakhir, Canon memproduksi kembali kamera sebagai berikut:
• “S II” dipasarkan di bulan Oktober l946
• “JII” dipasarkan di bulan Nopember l946
• “II B” dipasarkan di bulan April l949
• ”III” dipasarkan di bulan Februari 1951 kamera pertama Jepang dengan shutter speed 1/1000 detik
• ”IIIA dipasarkan tidak lama diluncurkan setelah seri ”III”
• ”IV” dipasarkan di bulan April 1951
• “IV Sb” dipasarkan di bulan Desember l952 kamera ini adalah kamera pertama dunia untuk kamera 35mm rangefinder dengan electronic flash synchronization.
• “IV Sb2″ dipasarkan di bulan Maret l954 kamera dengan shutter speed 1/15 detik yang menggunakan slow governor dengan dual-escapement mechanism. Kamera inilah yang saat itu bisa sejajar dengan kamera Leica (seri M3). Pengakuan ini disampaikan saat pameran internasional “Photokina” keempat di Jerman Barat tahun 1954.
• “VT” dipasarkan di bulan Agustus 1956
• Model “P (Populaire)” dipasarkan tahun l959
• Model “7″ dipasarkan bulan Maret l961
• Dan Model “7S” dipasarkan di bulan April 1965, itulah kamera 35 mm rangefinder terakhir yang diproduksi Canon.

Tahun-tahun berikutnya Canon memproduksi kamera pertama jenis single-lens reflex (SLR) yang dikenal ”Canonflex”, dipasarkan bulan Mei 1959. Berkembanglah kamera SLR 35 mm yang dibuat Canon.

Canon sempat tertinggal dengan membuat kamera autofokus SLR “T80,” yang keunggulannya masih ketinggalan dibandingkan dengan “Minolta a-7000″ dan “Nikon F-501.”

Kemudian bulan Maret 1985 Canon memutuskan untuk membuat Autofocus SLR terbaik yang akan diluncurkan tanggal 1 Maret 1987 bertepatan dengan ulang tahun Canon yang ke-50. Dibuatlah project yang dinamakan “EOS (Electro Optical System)”. Diambil dari nama Dewa Fajar dalam mitos Yunani.

Maret 1987, Canon membuat kamera EOS pertama yaitu “EOS 650″ dengan inovasi dan keunikan teknologi yaitu :
• highly sensitive focusing sensor,
• BASIS (Base-Stored Image Sensor),
• the high-precision motor, dan
• USM (Ultrasonic Motor)
kamera ini merupakan kamera komersial pertama dunia dengan super microcomputer. Prestasi ini mendapat penghargaan European Camera ‘87/’88 Award.

Selanjutnya Canon mengembangkan kamera SLR – EOS ini hingga memasuki era digital. Berikut ini rangkaian produksi Canon EOS :
• Bulan Mei 1987 dipasarkan “EOS 620”
• Tahun 1989 dipasarkan “EOS 630″ dan”EOS-1″
• Tahun 1990 dipasarkan “EOS 10″
• Bulan Oktober 1990 dipasarkan “EOS 1000QD”
• Bulan Agustus 1991, dipasarkan “EOS 100QD”, kamera ini adalah “the first really quiet SLR in the world”.
• Bulan November 1994 dipasarkan “EOS-1N”.
• Bulan September 1993 dipasarkan “EOS Kiss” kepanjangan dari “Keep It Smart and Silent.”
• Bulan September 1996 dipasarkan “New EOS Kiss”
• Bulan November 1992 dipasarkan “EOS 5QD”
• Bulan September 1995 dipasarkan “EOS 55″
• Bulan Oktober 1996 dipasarkan “EOS IX E”
• Bulan Juli 1996 Canon memasarkan kamera digital pertamanya “PowerShot 600″, kamera ini kerjasama Canon dengan Eastman Kodak.
• Bulan Nopember 1998 dipasarkan “EOS-3″
• Bulan April 1999 dipasarkan “EOS Kiss III”
• Bulan April 2000 dipasarkan “EOS-1V” hasil pengembangan kamera “EOS-1N”, yang kemudian memenangkan penghargaan pada Photo-Journalists Club’s 17th Annual Camera Grad Prix.
• Bulan Maret 1998 dipasarkan “EOS D2000″
• Bulan Desember 1998 dipasarkan “EOS D6000″
• Bulan September 2000 dipasarkan “EOS D30”
• Tahun 2001 dipasarkan EOS-1D (kamera SLR digital professional)
• Tahun 2002 dipasarkan EOS-1Ds (kamera SLR digital professional)
• Bulan Februari 2003 dipasarkan “EOS 10-D” (SLR digital)
• Bulan September 2003 dipasarkan “EOS 300D” atau dikenal “EOS Kiss Digital”
• Bulan Agustus 2004 dipasarkan “EOS 20-D” (SLR digital)
• Bulan Februari 2005 dipasarkan EOS 350D atau dikenal dengan ”Digital Rebel XT”
• Bulan Agustus 2005 dipasarkan “EOS-5D” (SLR digital)
• Bulan Februari 2006 dipasarkan “EOS-30D” (SLR digital)
• Bulan Agustus 2008 dipasarkan ”EOS-40D” (SLR digital)

Itulah serangkaian kamera SLR yang diproduksi Canon. Perlu kita ambil pelajaran bahwa Kwanon menjadi kamera terbaik ”diimpikan” tahun 1934, namun baru 20 tahun kemudian Canon mampu membuat kamera yang kemampuannya sejajar dengan Leica. Tigapuluh tiga tahun kemudian Canon mengembangkan kamera EOS dan mendapat penghargaan demi penghargaan sehingga bisa dikatakan menjadi kamera SLR terbaik.

Ternyata butuh puluhan tahun untuk bisa menjadi produk terdepan di dunia, sudah pasti membutuhkan kesabaran. Bayangkan jika Canon tidak persisten mengembangkan produknya, bisa jadi Canon sudah tenggelam, tidak pernah dikenal lagi.

Bagaimana dengan usaha yang Anda, saya atau yang kita upayakan? Tentu saja perlu waktu dan proses untuk tumbuh menjadi usaha yang berkembang, besar dan menjadi kuat. Belajar dari perusahaan dunia sekelas Canon, kita butuh kesabaran dan usaha yang persisten. Kita tidak perlu mundur karena cibiran, cemoohan orang lain yang menilai rendah atau kecil usaha kita. Jika kita sabar dan persisten dalam berusaha, Insya Allah 20 tahun kemudian Anda bisa menjadi fotografer profesional, seperti halnya Ferry Ardianto, Darwis Triadi, Roy Genggam, Arbain Rambey, Kayus Mulia, dan masih banyak lagi fotografer ternama lainnya di Indonesia.

Namun janganlah berkecil hati, setidaknya saat ini ada teknologi yang bisa memacu perkembangan kita. Dengan teknologi digital, usaha kita bisa cepat tumbuh, tidak 20 tahun, bisa jadi hanya membutuhkan waktu 10 tahun. Yang saya pribadi rasakan adalah saat ini kecepatan belajar photography saat ini sungguh luar biasa.

Kita bisa belajar smart, dengan belajar dari pengalaman kalangan profesional, yaitu kepada para fotografer profesional di atas baik dalam seminar atau workshop mereka. Seperti yang sering disampiakan mereka adalah :
• Kita perlu menjadi master dalam basic photography
• Kita perlu menguasai teknologi digital
• Kita perlu menguasai marketing (keinginan pasar)
dengan ketiga hal utama itu akselerasi pertumbuhan usaha photography bisa melaju kencang.

Salah satu photographer muda yang handal saat ini antara lain adalah Anton Ismail (photographer majalah Roolingstone). Menurut pandangan saya, beliau punya ciri khas dalam menyajikan seni visual, selain photography, saat ini beliau pun sudah merambah ke cinematography antara lain klipnya Dewi Sandra…… keren deh …. salut buat Mas Anton Ismail, menjadi master of basic, memahami teknologi dan memahami apa yang diinginkan pasar, ditambah kreativitas beliau yang senantiasa diasah dengan buku sketsa semacam buku kumpulan ide, yang sering beliau bawa-bawa kemanapun, dimana ada ide, langsung dicatat dalam buku itu. Tidak percaya, coba tanyakan kepada beliau ………..

Kategori: Canon

Sejarah Canon (1)

27 November 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Tahun 1933, harga sebuah kamera Leica model II adalah 420 yen. Saat itu gaji seorang lulusan universitas terkemuka di Jepang yang bekerja di bank adalah 70 yen per bulan. Tentu saja dengan harga tersebut kamera menjadi barang yang tidak terjangkau untuk dibeli.

Kenyataan itu ditanggapi, tentu saja dengan berbagai reaksi yang bermacam-macam. Ada seorang Jepang yang reaksi marahnya ”positif kreatif”, justru membuat sejarah baru dunia fotografi di masa-masa itu, yaitu Goro Yoshida. Dari ”kemarahan” itulah gagasan Yoshida untuk membuat kamera sangat memotivasinya. Kemarahan itu dipicu oleh dua hal :

Pertama, Sewaktu ia datang ke Shanghai untuk membeli onderdil kamera ia ditanya oleh Roy E. Delay ; ”Mengapa kamu datang ke sini hanya untuk membeli onderdil kamera? Negaramu kan sudah mampu membuat kapal tempur dan pesawat terbang. Jika kalian, orang Jepang mampu membuat kapal tempur yang bagus, tidak ada alasan kenapa kalian tidak mampu membuat onderdil kamera?

Kedua, setelah ia meneliti material dan cara bekerja kamera Leica, ia ”terkejut”, karena ia tidak menemukan barang mahal apapun dalam kamera itu, hanya komponen-komponen yang terbuat dari kuningan, aluminium, besi dan karet, tidak ada berlian di dalam kamera itu. Ia ”marah” karenanya, mengapa barang-barang murah itu bisa dijual begitu mahal.

Selanjutnya bersama kedua iparnya, November 1933, Saburo Uchida dan Takeo Maeda, Yoshida mendirikan Precision Optical Instruments Laboratory, bertempat di sebuah ruangan apartemen Takekawaya – daerah Roppongi – Tokyo. Tetapi belakangan tahun 1934 Yoshida meninggalkan laboratorium itu, karena ia tidak persisten dengan apa yang hendak ia kerjakan.

Yoshida sempat membuat prototipe kamera 35 mm range finder yang diberi nama ”KWANON”, diambil dari nama dewa dalam agama Budha. Bahkan ia memberi nama lensanya dengan nama KASYAPA, diambil dari nama murid Budha, Mahakasyapa.

Ada tiga tipe kamera Kwanon di dalam iklannya, tetapi tak satupun yang dijumpai di pasar. Ternyata ketiga tipe Kwanon itu hanyalah model kamera saja. Ada kamera Kwanon Model D yang ditemukan tahun 1955, tetapi itupun meniru Kamera Leica Model II dan bukan dibuat oleh Yoshida, tidak diketahui siapa pembuatnya.

Dalam usahanya untuk komersialisasi produk Kwanon oleh Saburo Uchida, Precision Optical Instruments Laboratory, bekerja sama dengan Nippon Kogaku Kogyo (Industri Lensa Jepang untuk Perusahaan Nikon) untuk menggunakan lensa Nikkor yang akan digunakan oleh Kwanon.

Precision Optical Instruments Laboratory dan Nippon Kogaku membuat perjanjian kerjasama untuk membuat “Hansa Canon” (menggunakan lensa standar Nikkor 50mm f/3.5). Kamera pertama Canon dipasarkan bulan Februari l936 (beberapa sumber mengatakan sudah ada di pasar bulan Oktober l935). Dalam pembuatan Hansa Canon, Nippon Kogaku bertanggung jawab membuat lensa, mount lensa, optical system dari viewfinder dan mekanis rangefinder, sementara itu Precision Optical Instruments Laboratory bertanggung jawab membuat body kamera termasuk focal-plane-shutter, rangefinder cover dan merakitnya.

Nama Kwanon kemudian diganti dengan Canon, yang diambil dari kata Canon yang berarti standar untuk judgement skrip Alkitab.

Ketika “Hansa Canon” dirilis, nama Precision Optical Instruments Laboratory tidak dicantumkan. Karena perusahaan tidak memiliki sendiri jaringan pemasaran, maka kemudian perusahaan bekerjasama dengan Omiya Shashin Yohin Co., Ltd. (Kamera Omiya dan toko asesoris). “Hansa” menjadi merk dagang Omiya, diambil dari kata Perjanjian Hansa, perjanjian di antara Uni Eropa di abad pertengahan.

Bulan Juni l936, Precision Optical Instruments Laboratory pindah ke daerah Meguro, dan berganti nama menjadi Japan Precision Optical Instruments Laboratory. Nama ini muncul di media public dalam iklan “Hansa Canon” bulan Agustus l936 yang diterbitkan oleh Asahi Camera.

Dalam perkembangannya, pertengahan tahun 1937 Canon memproduksi sendiri lensa dengan nama SERENAR. Kemudian tahun 1942, Takeshi Mitarai teman dari Saburo Uchida, menjadi president Precision Optical Instruments Laboratory. Tanggal 15 September 1947, Mitarai mengganti nama perusahaan menjadi Canon Camera Co., Ltd. Kamera dan lensa yang dibuat sejak 1953, diberi nama Canon.

Hal yang menarik dari sejarah berdirinya Canon, bahwa :

Mahalnya kamera Leica ditanggapi seorang Goro Yoshida dengan “kemarahan” yang positif kreatif. Ia berhasil membuat prototype kamera Kwanon. Tetapi terbukti, ia hanya mampu membuat prototype kamera, tetapi tidak mampu “menjual”. Disinilah peran pentingnya marketing.

Apa yang didapat oleh Yoshida? Mungkin saja hanya sebuah kebanggaan atas prototype kamera Kwanon-nya. Sedangkan orang lain yang bisa menikmati gagasan Yoshida adalah orang yang berhasil mengembangkan gagasan itu menjadi sebuah bisnis.

Jadi kalau dalam dunia bisnis, bisa jadi seorang penggagas belum tentu bisa menikmati gagasannya itu menjadi sebuah “keuntungan” bagi dirinya. Bisa saja gagasan itu “dicuri” atau dikembangkan oleh orang lain. Justru orang lain yang bisa melihat “peluang” itulah yang bisa menikmatinya menjadi sebuah “keuntungan”.

Nampaknya, penting mempunyai “team work” yang baik dalam sebuah bisnis. Seorang penggagas, bisa mendelegasikan ke anggota team yang lain yang bisa mengeksekusi gagasannya itu, dan bisa meminta anggota team yang lain untuk memasarkannya.

Memang tidak mudah membangun teamwork yang solid. Kadang-kadang gagasan yang begitu baik, tidak diterima oleh anggota team yang lain.

Dalam beberapa even wedding photography, kadangkala salah satu anggota team “lupa” akan peran yang telah disepakati dalam pengarahan. Atau bahkan ada orang lain, di luar team yang mengacau, melakukan intervensi terhadap kerja team. Yang cukup membuat pusing adalah, ”keinginan” untuk mengambil ”keuntungan” instant dari pekerjaan yang sedang ditangani, tetapi cenderung tidak memberikan komitmen yang baik untuk menghasilkan apa yang terbaik dari dirinya, akibatnya sangat merugikan team, terutama dalam rangka membangun reputasi.

Pernah saya temui, salah satu orang marketing perusahaan catering yang mau memberi job kepada kami secara rutin untuk wedding photography tanpa sepengetahuan owner perusahan catering, dengan syarat % rupiah tertentu harus dibayarkan kepada ”oknum” tersebut, secara sembunyi-sembunyi.

Wah ini godaan yang berbahaya. Walaupun dengan pendekatan yang baik, sikap kami tegas, kami menolak untuk bekerja sama dengan orang semacam itu. Alhamdulillah, saat kita ”kehilangan job order” dari orang semacam tadi, ternyata tanpa diduga, kita malah mendapatkan klien yang nilai job-nya jauh lebih besar, langsung dari klien, sehingga bebas dari ”pungutan” oknum yang tidak bertanggung jawab.

Celakanya, oknum semacam tadi justru ”menindas” kami dengan meminta harga yang murah, padahal kami tidak mau memberikan jasa yang murah, karena memang output yang kita hasilkan pun memakan biaya yang tidak murah. Kami memberikan jasa photography yang terjangkau dengan hasil yang memuaskan klien. Tujuan kami yang utama adalah kepuasan klien.

Bagaimana dengan Anda, apakah mengalami ”nasib” yang serupa ?

Kategori: Canon

Mengapa Fotografi ?

27 November 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pak Abdul Rosyid, dosen waliku suatu saat memanggil saya untuk datang ke rumah selepas Ujian Semester II, walaupun rumahnya cukup jauh, tetapi saya datang memenuhi panggilannya. Setibanya disana, dosen waliku dengan tidak lama berbasa-basi, melanjutkan dengan pembicaraan yang membuat saya berpikir keras. Beliau menegur dan menceramahi saya karena IPK saat itu hanya 2,0, bahkan dengan ilustrasi angka-angka, saya ”diramalkan” tidak bisa lulus dari Universitas. Pertanyaan beliau yang membekas adalah ”Mau jadi apa kamu, kalau kuliahmu itu tidak lulus?”.

Pulang dari rumah dosen waliku, membuat saya berpikir untuk beberapa hari. Mau jadi apa ya saya ini ? Lalu saya teringat kembali sekilas mata kuliah pengantar manajemen, saat itu Pak Harun Al Rasyid membuat statement yang sampai sekarang masih teringat. ”Setiap orang yang sukses pasti mempunyai tujuan hidup, dan ia menjalani hidupnya untuk mencapai tujuan hidupnya itu, hingga mencapai kesuksesan”.

Ada perang batin saat itu, antara mengikuti keinginan diri sendiri ataukah menuruti apa kemauan orangtua. Pasalnya adalah, saat itu saya kuliah di bidang studi yang sama sekali bukan pilihan sendiri, melainkan pilihan orangtua. Saya ingin kuliah di bidang studi jurnalistik Unpad atau senirupa ITB, ingin sekali belajar fotografi, tetapi orang tuaku memberi pandangan bahwa wartawan dan seniman itu masa depannya suram, dan itu paling dikhawatirkan orangtua. Orangtua menginginkan saya menjadi Insinyur agar mudah mencari pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan mereka sebagai pegawai negeri biasa. Walhasil saya kuliah di Fakultas Pertanian – Jurusan Sosial Ekonomi Unpad.

Setelah memikirkan apa untung ruginya, saya kemudian memutuskan untuk meneruskan kuliah dan belajar dengan sungguh-sungguh. Alasan utama saat itu semata-mata untuk menuruti kemauan Ibu.

Singkat cerita, saat saya lulus dengan IPK yang lumayan, cukup memenuhi syarat untuk melamar kerja di berbagai perusahaan. Saat melamar pekerjaan, tepatnya dalam proses seleksi pegawai di sebuah Bank Pemerintah, Ibu mengalami sakit parah. Dan yang membuat sedih adalah saat diterima menjadi pegawai Bank, Ibu meninggal dunia. Sedih karena belum sempat membahagiakan orangtua. Dan hingga tulisan ini dibuat, saya masih bekerja di salah satu Bank pemerintah.

Bahagiakah? Oh ternyata tidak membuat bahagia secara batin. Secara materi, Alhamdulillah, saya bersyukur bisa mendapatkan apa yang sekarang saya peroleh. Namun kalau ditelusuri, ternyata berulang kali, tindakan yang dilakukan adalah semata-mata prasyarat untuk mencapai sesuatu. Antara lain, kuliah pasca sarjana di Teknik Industri IPB, itu dilakukan semata-mata hanya untuk kepentingan ”promosi” ke karir yang lebih tinggi. Hampir semua pekerjaan dilakukan karena keharusan semata, bukan demi kemauan yang sebenarnya.

Tahun berganti tahun, setelah menikah saya teringat kembali apa yang menjadi keinginan sejak dulu, yaitu fotografi. Saya kemudian memutuskan membeli kamera (masih analog, saat itu) dan mulai menekuni FOTOGRAFI……..

Saat isteri hamil anak yang pertama, waktu saya banyak tersita dengan kursus, workshop dan hunting fotografi. Rasanya saya menemukan dunia baru….. IT FEELS LIKE HOME……. bahagia rasanya bisa bersentukan dengan dunia fotografi.

Pada periode waktu yang bersamaan saya kuliah pasca sarjana, menekuni hobby fotografi, dan aktif di salah satu Multilevel Marketing.

Multilevel Marketing ? Kok mau ? …….

Jika Anda pernah membaca buku-bukunya Robert T Kiyosaki, pasti Anda akan menemui apa yang dinamakan Cashflow Quadrant : Employee, Self Employee, Business Owner dan Investor. Quadrant Business Owner dan Investor, adalah quadrant bebas finansial (Financial Freedom), begitu katanya.

Nah…. salah satu untuk bisa menjadi Business Owner adalah menjadi anggota salah satu MLM dan membangun bisnisnya. Sekitar 2 tahun aktif, dan mencapai peringkat Leaders Club (ini boleh dibilang masih level krocomumet). Namun kemudian kembali tersadar, bahwa ini bukan yang saya mau…… Dan rasanya, aktif disana, banyak sekali ”kepalsuan-kepalsuan” yang saya temui….. berbeda sekali dengan dunia fotografi…. kita memotret, apa yang kita sukai, apa yang kita rasakan dan apa yang kita ingin lakukan….. Walaupun demikian saya bersyukur juga, saya bisa memperoleh ilmu marketing, people skill dan bagaimana membangun jaringan.

Terpikirlah ide untuk pensiun dini…… gara-gara ”Virus Kiyosaki”. Terlebih lagi pada tahun 2005, muncullah fatwa MUI, mengenai bunga bank…… sangat mengusik hati nurani….. Ide pensiun dini itu semakin kuat. Saya ingin saya ingin mengerjakan pekerjaan yang saya sukai. Sudah terlalu lama saya mengerjakan suatu pekerjaan yang harus saya kerjakan, bukannya pekerjaan yang saya sukai.

Ada keraguan di dalam hati, apakah fotografi bisa memberi penghasilan dan kehidupan seperti yang sudah dinikmati ? Ini harus dipikirkan dan direncanakan dengan matang. Banyak hal yang mempengaruhi motivasi itu semakin mengkristal, buku-buku seperti Robert T Kiyosaki , bukunya Steven Covey dan buku-buku lainnya, talkshow-nya Mario Teguh, hingga blog komunitas Tangan Di Atas (TDA). Saya senang sekali menyimaknya., membuat saya sangat antusias.

Memang tidak mudah membangun bisnis ….. pasti akan mengalami jatuh dan bangun ….. Tetapi yang penting adalah kita harus segera bangun, kalau terjatuh, tidak berdiam diri, satu langkah setelah jatuh, yaitu BANGUN, itu salah satu hal yang saya ingat dari MLM.

Saya mengutip kata-kata Pak Mario Teguh :
• Antusiasme adalah keyakinan yang bergembira.
• Anda tidak mungkin bersemangat melakukan sesuatu yang tidak Anda yakini sebagai jalan untuk mencapai keberhasilan; dan Anda tidak mungkin bergembira dalam sebuah perjalanan mencapai sesuatu yang tidak Anda sukai.
• Karenanya;
o pertama, Anda harus menyakini bahwa perjalanan Anda sudah menuju sesuatu yang tepat;
o kedua, Anda harus meyakini kesempatan yang baik bagi pencapaian tujuan Anda; dan
o ketiga, Anda bergembira karena yang akan Anda capai adalah sesuatu yang Anda inginkan.

Sedangkan Roni Yuzirwan, founder Komunitas Tangan Di atas menulis :
• Membangun kekayaan berbeda dengan menciptakan penghasilan (income).
• Membangun kekayaan adalah membangun reputasi, nama baik, kredibilitas, jaringan, ilmu pengetahuan dan segala sumber daya. Dengan demikian seseorang bisa menjadi magnet bagi kekayaan.

Itulah hidup, senantiasa penuh dengan dinamika. Mempunyai tujuan hidup dan berusaha mencapainya adalah hal penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah kita menjalaninya dengan suka cita atas kemauan diri sendiri, bukan suatu keharusan. Kita melakukan sesuatu, karena memang kita membuat keputusan untuk melakukannya atas kemauan sendiri.

Dan yang paling akhir, tanpa melupakan yang terpenting di dalam hidup adalah, The Ultimate Goal seorang muslim adalah Laa Ilaha Illaloh Muhammadar- Rasululloh, begitu yang ditrainingkan oleh Pak Ary Ginanjar, dalam traning ESQ nya.

Kategori: Umum

Canon School of Photography

27 November 2007 · 1 Komentar

Konon dahulu, era tahun 1970 – 1980 belajar fotografi terbilang sesuatu yang sulit. Bukan karena content yang sulit, tetapi boleh dibilang hampir tidak ada fotografer yang mau mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Pelajaran fotografi saat itu lebih mudah diperoleh melalui buku, namun itupun tidak mendetail, kebanyakan bersifat umum dan teoritis. Saat itu di Indonesia belum ada sekolah-sekolah informal / kursus khusus untuk fotografi, adapun universitas yang khusus mengkaji fotografi, adalah barang langka.
Barulah tahun 1990-an mulai banyak club-club fotografi hingga kursus-kursus fotografi (workshop, seminar, diskusi dll) sehingga ilmu fotografi sudah banyak sumbernya, termasuk dari majalah fotografi. Dan yang paling melegakan adalah, para fotografer professional pun sudah rela berbagi ilmu dan pengalamannya.
Salah satu sekolah fotografi, (boleh dibilang kursus fotografi intensif) adalah Canon School of Photography Jakarta yang dipimpin oleh Bapak Kumara Prasetya, sebagai trainer professional (foto: duduk di tengah, kemeja bergaris biru). Disini, diajarkan semua teknik fotografi dibarengi praktek, dalam waktu yang relatif singkat. Waktu pelaksanaannya-pun sangat menunjang bagi para pekerja yang tidak mungkin hadir pada jam-jam kerja.
Namun demikian, para peserta dituntut untuk konsentrasi dan memahaminya dalam waktu singkat juga melakukan “learning by doing” dalam waktu singkat. Pengalaman yang menarik bahwa, pelajaran di Canon School itu bisa menjadi pemicu seseorang untuk terjun ke dunia profesi fotografi, jika apa yang diajarkan Pak Kumara Prasetya itu “nempel” di kepala dan terus “menggelitik” kreatifitasnya, maka ia akan menjadi hobbiest yang serius, bahkan mungkin bisa menjadi fotografer professional.
Materi lanjutan mengenai lighting dan sebagainya bisa diperoleh dengan mengikuti kursus-kursus/ seminar/ workshop yang biasa diselenggarakan oleh para fotografer profesional seperti Ferry Ardianto, Roy Genggam atau jika ingin lebih mantap lagi, bisa sekolah di Darwis Triadi School. Yang jelas adalah…… jika kita mau, maka kita akan mampu…… bagaimanapun tingkat kesulitannya, selama ada kemauan yang keras dan usaha yang sungguh-sungguh, maka profesi apapun bisa dikuasai.

Kategori: Canon

Halo dunia!

27 November 2007 · 1 Komentar

Selamat datang di weblog sederhana ini, semoga berkenan dan dapat memberikan informasi yang bermanfaat.

Picture Aesthetic Digital Photography

email : pixethic@gmail.com

Blog :

http://pixethic.wordpress.com

http://pictureaesthetics.blogspot.com

Kategori: Umum